Langsung ke konten utama

Postingan

Makananku, Ceritaku: Jodohku Bukan Penjual Dawet Ponorogo!

                                   Saat melintasi kota yang mendapat julukan Bumi Reog, di sepanjang jalan di Desa Jabung Kabupaten Ponorogo Saya selalu menemukan penjual dawet yang kira-kira kalau dihitung ada sekitar 20 warung berjejer di sepanjang jalan. Sambil berkendara diteriknya cuaca, saya pun akhirnya menikmati perjalanan sambil berdendang melantunkan lagu Cendol Dawet yang digaungkan oleh Godfather of Broken Heart Didi Kempot. Kira-kira liriknya seperti ini : “Nangis batinku, nggrantes uripku” (menangis batinku, merasakan kehidupanku) “Teles kebes netes eluh neng dodoku” (basah kuyup menetes air mata di dadaku) “Cendol dawet, cendol dawet seger” Kemudian saya memutuskan untuk mampir ke salah satu warung yang dekat perempatan Jabung, Dawet Jabung Bu Sumini namanya. Formasi meja pelanggan ditata mengelilingi penjual. Aneka gorengan seperti tahu isi, pisang goreng, t...

Mengintip Koleksi Surat Kabar Kuno di Monumen Pers Nasional Solo

Perjalanan wisata Solo di bulan Agustus lalu rupanya harus saya ulas agar kenangannya abadi disini. Destinasi wisata Solo memang mengundang penasaran. Meskipun kebanyakan wisatanya adalah museum dan paling ternama adalah keraton Solo.  Sebelum keberangkatan tentu itenerary sudah disiapkan, oya kali ini bukan saya yang menyiapkan semuanya karena semua sudah tercover alias gratis. Mulai dari pemesanan tiket kereta pulang pergi, sewa hotel di Solo selama 3 hari, menyewa motor untuk mlipir wisata, bahkan tiket masuk wisata pun saya tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Khusus untuk makan maupun oleh-oleh urusan pribadi hehe. Yang jelas ini pengalaman atau cover gratis perjalanan saya kedua setelah memutuskan resign dari pekerjaan utama saya beberapa bulan lalu.  Kunjungan ke Monumen Pers Nasional Solo menjadi salah satu bahan bakar positif buat saya. Bukan sekedar monumen, ini adalah museum dengan bangunan bergaya Eropa dan sentuhan Hindu Budha. Saya memang tidak paham seni tapi...

7 Tips Konsisten Menulis di Jam Sibuk

Konsisten menulis rasanya cukup sulit jika tidak disertai dengan jam terbang tinggi apalagi punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Banyak faktor yang akhirnya membuat tulisan jadi terbengkalai dan berhenti di tengah jalan, tidak sedikit pula yang memutuskan meninggalkan tulisan begitu saja karena dinilai hanya membuang waktu.  Menulis pada umumnya dianggap mudah, padahal jika sudah serius terjun di dalamnya tidak semua bisa konsisten, bukan begitu? Berawal dari pengalaman pribadi, yang mana saya hanya sempat membuat ide cerita dan paling mentok membuat outline, setelah berganti hari bahkan bulan ide yang semula memenuhi otak akhirnya lenyap begitu saja. Faktor selain pekerjaan biasanya terjadi karena bingung mengatur pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dulu dan faktor utama yang tidak lain adalah malas. Malas adalah momok mengerikan jika dibiarkan, belum lagi writerblock  sangat berpengaruh sekali. Untuk itu saya kemudian melakukan beberapa cara se...

Jelajah Sejarah dan Asal Nama Kediri di Desa Siman Kepung, Kediri

Perjalanan kali ini tidak jauh dari sebuah agenda yang kami rencanakan di aplikasi Trello dan desa yang kami kunjungi selanjutnya adalah Siman. Ya sembari memulai tulisan di blog tentu saja keinginan kami ‘plesiran’ adalah menyelami sejarah terutama tentang Kediri dan sekitarnya. Lantas apa saja yang kami temukan?  Setiap perjalanan membawa ‘energi’ tersendiri bagi kami. Menemukan tempat baru yang enak bukan sekedar untuk ‘nongki’ adalah bonus. Jika biasanya desa Siman selalu identik dengan pemandangan waduk buatan nan syahdu di kala senja beradu, kini kami sengaja menambahkan list tambahan. Setelah googling beberapa hari keberangkatan, kami menemukan sesuatu yang menarik.  Prasasti Paradah Siman dan Cerita Asal Nama Kediri Prasasti Paradah berada di Desa Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Tempatnya tidak strategis karena berada di dalam gang. Ya tentu sebelum kami menuju lokasi tersebut, kami bertanya kepada salah satu warga sekitar. Terdapat ...

Telusur Budaya di Goa Kethek, Kediri

Beberapa hari lalu, saya dan teman saya mengunjungi peresmian Goa Kethek tepatnya di desa Karangtengah Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri. Sebelumnya kami mendapatkan informasi bahwa pada acara tersebut akan ada upacara adat yang dilaksanakan oleh agama Hindu, sontak kami pun bersemangat untuk hadir. Tidak lain karena kami memiliki taste yang sama, penyuka sejarah dan kebudayaan.  Berbekal rasa penasaran kami menelusuri Goa yang letaknya di tengah persawahan. Sesampainya disana kami terpukau dengan hiasan pada pintu masuk Goa. Ya, khas sekali dengan adat Hindu. Beberapa objek tertentu dipasang kain berwarna hitam putih atau kain poleng, saya amati di meja ada beberapa sesajen berupa bunga, dupa, air dan selebihnya saya tidak tahu apa saja isi lengkapnya. Terdapat pula payung dan dekorasi yang menghiasi benda lainnya. Cukup menarik perhatian saya, selanjutnya kami kebawah untuk menyapa orang yang sedari awal sudah disana. Memulai dengan Mengulik Sejarah Apa saja yang akan kami lak...